Oleh Penulis: Aidil, S.H.
Gelombang demonstrasi membara di berbagai kota—Makassar, Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, hingga pelosok lain negeri ini. Massa turun ke jalan, gedung DPRD dibakar, kendaraan dirusak, kekacauan merebak. Namun dari semua itu, yang paling pahit adalah hilangnya nyawa rakyat.
Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online, tewas dilindas kendaraan taktis Brimob di Jakarta. Di Makassar, tiga orang meregang nyawa saat gedung DPRD dibakar.
Lalu, setelah semua itu, apa yang berubah? Tunjangan anggota DPR tetap tinggi di tengah kesulitan rakyat. Kebijakan ekonomi tetap abai terhadap kaum lemah. Ketidakadilan sosial tetap mencekik bangsa ini. Semua api, semua kerusuhan, semua nyawa yang melayang—belum mampu memaksa pemerintah maupun legislatif bergerak.
Inilah ironi yang menyakitkan: rakyat berteriak di jalan, mengorbankan nyawa, membakar aset, namun penguasa hanya membalas dengan kebisuan. Apakah kemarahan rakyat akan selalu dibayar dengan korban jiwa dan kehancuran materi, sementara kursi kekuasaan tetap hangat mereka duduki?
Refleksi kritisnya jelas: kemarahan itu sah, tetapi aksi destruktif tanpa arah hanya meninggalkan luka dan kehilangan. Perubahan sejati tidak lahir dari api dan batu, melainkan dari tekanan cerdas—advokasi hukum yang konsisten, pengawalan media yang jujur, strategi politik yang terukur, serta kolaborasi rakyat yang kritis dan berdaya.
Di sinilah dilema moral itu terasa: nyawa sudah melayang, tapi tuntutan masih diabaikan. Demonstrasi seharusnya bukan sekadar luapan amarah, melainkan alat perubahan. Jika jalanan terus dijadikan arena pembakaran tanpa visi, maka setiap nyawa yang hilang hanyalah bukti kegagalan kita menyalurkan aspirasi secara efektif.
Indonesia kini sedang diuji: apakah kita akan terus kehilangan anak bangsa di jalan tanpa hasil, ataukah kita mulai menyalakan api perubahan yang nyata, terukur, dan berkelanjutan? Pemerintah dan DPR harus menyadari satu hal: rakyat tidak lagi takut membayar harga. Tapi rakyat juga berhak menuntut hasil. Jika tidak, setiap kepulan asap dari gedung yang terbakar hanyalah simbol kegagalan kolektif bangsa ini.