
Ini Gowa
Ini wibawa
Harkat dan martabat telah hidup
Jangan biarkan redup
Kamu ada
Kami ada
Tampillah
Bersatulah
Dekati Gunung Bawakaraeng
Jangan biarkan dia berpaling
Kita tak bisa sendiri
Karena persatuan itu mandiri
Semua butuh sentuhan
Bukan memupuk kemarahan
Perbedaan itu rahmat
Jangan jadikan laknat
Kemarin itu pelajaran
Hari ini keteladanan
Esok dapat diraih
Dengan tasbih dan belas kasih
Jangan fokus ke belakang
Agar tak subur penghalang
Jadikan musuh itu teman
Hingga semua akan ringan
Bersahabatlah dengan nurani
Maka tak hadir tirani
Kejayaan datang pada yang tak gentar
Tegakkan dada dengan nyali yang besar
Gowa terjaga mewangi dalam dzikir
Teruskan pikir lalu mengukir
Hilangkan kekakuanmu
Genggam erat kejayaanmu
Rangkul Utara dan Selatan
Jangan pelihara kelalaian
Tutup semua celah
Agar tak lahir resah
Gowa, Pallangga, 5 Desember 2025
Syahrir AR

Ketika Tanah Berbicara, Langit Mengangguk, dan Sejarah Kembali Bernafas.
Tujuh ratus lima tahun bukan sekadar usia ia adalah denyut, desis, desau, dan doa.
Ia adalah rintihan dan kemenangan, luka dan kesembuhan, tangis yang berubah menjadi cahaya.
Ia adalah perjalanan panjang sebuah tanah yang tidak pernah menyerah meski badai sejarah berkali-kali datang memporak-porandakan segala yang berdiri di atasnya.
Dan tanah itu bernama Gowa.
Gowa yang ditumbuhkan oleh legenda.
Gowa yang diperkokoh oleh perjuangan.
Gowa yang dipersatukan oleh darah para karaeng, para pejuang, para rakyat yang mengangkat martabatnya lebih tinggi dari cakrawala.
Pada usia ke-705 ini, Gowa bukan hanya merayakan bertambahnya waktu ia sedang menegakkan dirinya di hadapan langit dan bumi, seolah berkata:
“Inilah aku.
Aku masih berdiri.
Aku masih bernyawa.
Dan aku tidak akan runtuh selama rakyatku mencintai tanah ini.”
Pada lembaran waktu yang tak pernah lelah berjalan, pada tanah yang dahulu mengukir gemuruh sejarah, Gowa berdiri sebagai nama yang tak sekadar disebut, melainkan dipanggil. Sebab setiap hurufnya mengandung wibawa; setiap degupnya adalah harkat, setiap hembus anginnya adalah martabat yang menolak dilupakan.
Dan di antara hamparan lembah yang hijau serta pucuk gunung yang membiru, suara itu kembali diperdengarkan, seolah datang dari sela-sela batu tua:
“Ini Gowa. Ini wibawa. Jangan biarkan redup.”
Seruan itu bukan sekadar penghias langit. Ia adalah amanat. Amanat yang dititipkan bukan hanya kepada pemimpin, bukan hanya kepada leluhur, tetapi kepada siapa pun yang berdiri dan bernafas di tanah ini.
Sebab kamu ada, kami ada, dan karenanya Gowa tidak menunggu siapa pun untuk menyala. Ia menunggu kita untuk menyulutnya bersama.
Di timur, Gunung Bawakaraeng menyembul bagai mahkota yang ditancapkan langit. Ia bukan sekadar gunung; ia adalah penjaga arah, penuntun diam yang memelihara keselarasan bumi dan langit. Di balik tenangnya, ia menyimpan ribuan langkah para peziarah, ratusan doa yang dibisikkan malam, dan berjuta harap yang diikatkan pada teguhnya tebing.
Ketika memohon agar gunung itu tidak berpaling, sesungguhnya yang diminta adalah agar nilai-nilai keteguhan tidak menjauh.
Nilai bahwa persatuan bukan sekadar penghibur, tetapi pilar yang harus didirikan bersama.
Sebab tidak ada negeri yang dapat berdiri tanpa kebersamaan. Tidak ada waktu yang bisa ditaklukkan tanpa bahu yang saling menahan. Di hadapan gunung yang abadi, manusia sadar bahwa dirinya sementara, dan karenanya ia perlu bersandar satu sama lain untuk menjadi kuat.
Gowa tidak lahir dari kesempurnaan. Ia dibangun oleh tangan manusia: tangan yang mencintai, tangan yang terkadang tergelincir, tangan yang saling berbeda namun saling melengkapi.
Dan dalam perbedaan itu, sejarah mengajarkan satu hal: rahmat tumbuh ketika sentuhan hadir, bukan ketika kemarahan dipelihara.
Idealnya, mengingatkan bahwa memupuk amarah adalah mengundang keretakan; sementara mengulurkan tangan adalah merajut kembali apa yang pernah koyak. Masyarakat, pemimpin, dan seluruh penjuru kehidupan sosial Gowa kini ditantang untuk memilih: menjaga rahmat atau memanjangkan laknat.
Setiap pilihan adalah jejak yang akan dikenang.
Ada masa ketika Gowa berlari, ada masa ketika ia terseok. Ada hari yang menjadi pelajaran, ada hari yang menjadi teladan.
Namun dari keseluruhan perjalanan panjang itu, satu hal menjadi jelas: tak ada masa depan yang tumbuh dari dendam kepada masa lalu.
Hal tersebut membisikkan:
“Kemarin itu pelajaran. Hari ini keteladanan. Esok dapat diraih dengan tasbih dan belas kasih.”
Inilah jalan yang dipilih masyarakat Gowa untuk menulis babak berikutnya: bukan jalan yang dipenuhi gaduh, bukan pula jejak yang hanya sibuk menengok ke belakang, tetapi jalan yang ditaburi doa, keteguhan moral, dan kejernihan budi.
Pembangunan fisik dapat dilakukan kapan saja; tetapi membangun batin masyarakat itu memerlukan hati yang mau ditempa.
Dan kini, Gowa sedang ditempa.
Lembaran sejarah mana pun akan menunjukkan bahwa suatu negeri akan besar jika ia mampu berdamai dengan dirinya sendiri.
Puisi itu, dengan suara yang dalam, menegaskan:
“Jangan fokus ke belakang, agar tak subur penghalang.”
Di balik kalimat itu terdapat pesan klasik: siapa yang memandangi masa lalu terlalu lama akan kehilangan langkah. Dan lebih jauh lagi, Gowa diajak untuk melakukan sesuatu yang jarang dianjurkan dalam kehidupan politik modern: menjadikan musuh sebagai teman.
Ini bukan ajaran kelemahan, melainkan ajaran kebijaksanaan.
Sebab jika setiap lawan dirangkul, maka tidak ada lagi ruang untuk intrik; yang tersisa hanyalah satu arah: kemajuan.
Tentunya, memperingatkan tentang tirani yang bisa tumbuh bila nurani diabaikan. Maka masyarakat Gowa, beserta para pemangkunya, diingatkan untuk terus menjadikan suara hati sebagai kompas.
Gowa tidak membutuhkan pemimpin yang gagah di luar namun kosong di dalam. Tidak pula membutuhkan masyarakat yang lantang bersorak tetapi hampa hikmah.
Gowa membutuhkan keberanian yang lahir dari kebenaran, bukan dari ketakutan. Butuh nyali yang besar, tetapi nyali yang dikendalikan oleh kebajikan.
Kejayaan, kata bait itu, datang kepada yang tidak gentar.
Dan gentar itu hilang bila keyakinan dan niat baik bertemu.
“Gowa terjaga mewangi dalam dzikir.”
Kalimat ini terdengar seperti ayat lama yang diturunkan dalam bisikan malam.
Dzikir bagi masyarakat Gowa bukan hanya ritual spiritual; ia adalah napas yang menenangkan gejolak sosial, cahaya yang meredam kegelisahan.
Ketika dzikir menemukan pikir, dan pikir menjelma ukiran kerja, maka terciptalah masyarakat yang tidak sekadar religius, tetapi produktif, bijaksana, dan berwawasan jauh ke depan.
Dan Gowa kini sedang mengukir dirinya kembali.
Dalam tubuh Gowa terdapat banyak pembeda: utara dan selatan, pesisir dan pegunungan, kota dan pedesaan, tua dan muda.
Namun bait puisi itu mengajarkan bahwa arah tidak boleh menjadi pemisah. Kedua mata angin itu harus dirangkul, bukan dipisahkan.
Karena jika celah dibiarkan, kegelisahan akan menetas.
Maka Gowa kini diarahkan untuk menutup setiap celah: celah ekonomi, celah pendidikan, celah kultur, celah informasi.
Tidak dengan paksaan, tetapi dengan komitmen bersama bahwa kemajuan hanya tumbuh ketika jarak dipersempit, bukan diperlebar.
Seperti kitab kuno yang menutup bab ilmiahnya dengan doa, puisi ini pun menutup dirinya dengan seruan luhur:
Kibarkan Gowa.
Jaga wibawanya.
Genggam persatuannya.
Pertahankan kejayaannya.
Gowa adalah risalah yang belum selesai ditulis. Ia hidup di tangan rakyatnya, bernafas dalam kerja pemimpinnya, dan berdenyut dalam harapan generasi mudanya.
Dan selama amanat itu dirawat, selama persatuan itu dipegang, selama kearifan dijadikan suluh, maka Gowa tak akan hendak redup.
Ia akan kembali menjadi obor yang tegak di antara lembah dan gunung. Ia akan menjadi harum yang dibawa angin kepada dunia.
Ia akan menjadi bukti bahwa sebuah daerah, ketika bersatu, mampu menaklukkan perpecahan, menapak masa depan, dan menghidupkan kejayaan yang nyaris seperti dongeng.
Dan dongeng itu, kini, bersiap menjadi kenyataan.
Kibarkan Gowa. Bukan sebagai seruan, tetapi sebagai takdir.
Syahrir AR

















