Blog

Jejak 705 Tahun, dari Kerajaan Besar menjadi Kabupaten Modern

16
×

Jejak 705 Tahun, dari Kerajaan Besar menjadi Kabupaten Modern

Sebarkan artikel ini
Exif_JPEG_420

Di sebuah pagi yang masih basah oleh embun di kaki Pegunungan Bawakaraeng, suara tabuhan gendang bersahutan seperti menyapa matahari yang baru merekah. Di Lapangan Istana Tamalate (Istana Balla Lompoa), para penari dengan pakaian adat berwarna emas kehitaman melangkah serempak, seolah waktu menarik napas panjang untuk mengenang perjalanan panjang Kabupaten Gowa. Sebuah kerajaan tua yang kini menjelma menjadi kabupaten modern, yang tepat tahun ini memasuki usia 705 tahun.

Perayaan Hari Jadi Gowa bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah ruang di mana sejarah, identitas, kebudayaan, dan harapan masa depan bertemu dalam satu panggung besar. Di sinilah denyut sebuah peradaban tua kembali hidup, mengingatkan masyarakat bahwa Gowa tidak hanya daerah, melainkan kisah besar yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Sejarah mencatat Gowa sebagai salah satu kerajaan terbesar di kawasan timur Nusantara. Namanya disejajarkan dengan Tallo dan Bone sebagai pusat penting peradaban Bugis-Makassar. Pada abad ke-16 hingga ke-17, Gowa mencapai masa keemasan di bawah pemerintahan Sultan Alauddin dan Sultan Hasanuddin, yang kemudian dikenang sebagai Ayam Jantan dari Timur.

Dari sinilah Gowa menyebarkan pengaruh maritim, perdagangan, hingga diplomasi. Pelabuhan Somba Opu pernah berdiri sebagai jalur utama rempah-rempah Asia, menjadi pintu gerbang bagi kapal dari Portugis, Arab, Gujarat, hingga Tiongkok.

Kini, 705 tahun kemudian, sisa-sisa kejayaan itu masih terjaga. Benteng Somba Opu direstorasi, manuskrip kuno dilestarikan, dan berbagai ritual adat seperti Accera Kalompoang, pencucian benda pusaka kerajaan, tetap dilakukan sebagai pengikat memori kolektif masyarakat Gowa.

Salah satu momen yang paling dinanti tiap Hari Jadi Gowa adalah Accera Kalompoang. Ritual sakral ini bukan sekadar pembersihan benda pusaka seperti pedang, keris, tombak, dan mahkota kerajaan. Ia adalah simbol bahwa kekuasaan, budaya, dan sejarah harus dijaga tetap bersih di tengah perubahan zaman.

Di ruang dalam Istana Balla Lompoa, beberapa Anrong Guru (pemangku adat) bekerja dalam hening penuh kehormatan. Di luar, ratusan atau bahkan ribuan masyarakat berdiri berdesakan untuk melihat sekilas benda-benda yang biasanya tersimpan rapat sepanjang tahun.

Ini bukan tentang pusakanya. Ini tentang bagaimana kita menjaga jati diri sebagai orang Gowa. Diharapkan, selama pusaka ini dirawat, selama itu pula roh peradaban Gowa tetap hidup.

Harapan tersebut menyiratkan bahwa modernitas tidak pernah boleh memutus tali yang menghubungkan manusia dengan akar sejarahnya.

Memasuki 705 tahun usianya, Gowa menghadapi tantangan yang jauh berbeda dari masa kerajaan. Kini, pemerintah daerah harus berpacu menciptakan pembangunan yang selaras antara modernitas dan kelestarian budaya.

Dalam satu dekade terakhir, akses jalan, pusat ekonomi, kawasan agrowisata, dan sentra UMKM tumbuh pesat. Kawasan Malino menerima penataan besar-besaran, menjadikannya salah satu ikon wisata nasional. Di beberapa kecamatan, jaringan transportasi diperbaiki untuk mempercepat arus ekonomi.

Gowa kini menjadi salah satu pusat pendidikan terbesar di Sulawesi Selatan dengan hadirnya berbagai kampus besar di kawasan Samata. Ribuan mahasiswa dari berbagai daerah menambah denyut intelektual yang terus berkembang.

Gowa berupaya menempatkan adat bukan sebagai ornamen masa lalu, tetapi bagian dari strategi identitas. Festival budaya, lomba menulis sejarah lokal, hingga revitalisasi rumah adat menjadi agenda rutin.

Dari pasar-pasar tradisional hingga usaha kreatif digital, Gowa sedang menuju model ekonomi kerakyatan berbasis pemberdayaan masyarakat. Hal ini terlihat dari meningkatnya UMKM dan program desa wisata yang mulai mengambil peran penting.

Hari Jadi Gowa bukan hanya milik pemerintah dan pemuka adat. Ia hidup dalam cerita masyarakat, dalam nafas para pedagang pasar, dalam senyum anak-anak sekolah, hingga dalam ingatan para petani di lembah Malakaji.

Dari mereka, kita melihat bahwa Gowa berdiri di atas harapan-harapan kecil yang membentuk gambaran besar tentang masa depan.

Perayaan ini bukan sekadar angka. Ia adalah perjalanan panjang menuju kedewasaan sejarah. Gowa telah melewati peperangan, kolonialisme, perubahan politik, bencana alam, hingga dinamika zaman digital. Namun satu hal tetap sama: jiwa masyarakatnya yang kokoh memegang jati diri.

Dalam setiap langkah, Gowa menegaskan dirinya sebagai tanah para karaeng. Tempat di mana keberanian, kearifan, dan kehormatan menjadi fondasi kehidupan.

Hari Jadi Gowa ke-705 adalah ajakan bagi seluruh masyarakat untuk melihat ke belakang sebagai pijakan melangkah ke depan. Bahwa sejarah bukan bebatuan mati, melainkan cahaya yang menuntun perjalanan menuju masa yang lebih baik.

Dari puncak Malino yang sejuk hingga lembah Pattalasang yang berkembang menjadi kawasan modern, dari ritual Accera Kalompoang hingga derap pembangunan yang tak pernah berhenti—Gowa mengingatkan kita bahwa peradaban hanya akan bertahan jika masa lalu dan masa depan berjalan berdampingan.

Dan pada hari perayaan ini, Gowa mengumumkan kepada dunia,
“Gowa telah berusia 705 tahun. Dan perjalanannya telah dimulai.”

Namun, tantangan tetap ada: pemerataan pembangunan, ketahanan pangan, lingkungan, serta kualitas sumber daya manusia. Di titik inilah, HJG ke-705 menjadi ruang untuk kembali bertanya: ke mana Gowa akan melangkah ?

Ketika malam turun di pusat kota Sungguminasa, lebih tepatnya di Istana Balla Lompoa, lampu-lampu menghiasi panggung utama perayaan. Anak-anak menari dengan kostum tradisional, sementara orang tua menonton dengan tatapan bangga. Di antara riuhnya musik dan cahaya, terukir harapan Bupati, Wabup, para pejabat serta para undangan yang hadir.

Bahwa Gowa akan terus menjadi tempat di mana sejarah dihormati, masa kini diperkuat, dan masa depan dipersiapkan dengan optimisme.

Bahwa 705 tahun bukanlah angka yang menua, tetapi tonggak yang mematangkan.

Bahwa masyarakat Gowa, dari pegunungan hingga pesisir akan tetap menjadi jiwa dari perjalanan panjang ini.

Gowa adalah kisah yang terus ditulis. Ia adalah kerajaan, kabupaten, tanah leluhur, ruang ekonomi baru, dan rumah bagi lebih dari 700 ribu jiwa.

Di Hari Jadi Gowa ke-705 ini, satu hal menjadi jelas:
Gowa bukan hanya tempat, ia adalah perjalanan.
Perjalanan yang dimulai tujuh abad lalu dan akan terus berlanjut sejauh harapan masyarakatnya berani melangkah.

Selamat Hari Jadi Gowa ke-705.
Semoga cahaya sejarah tetap menerangi masa depan, dalam suasana hati yang selalu damai.

Sebagai penutup, izinkan penulis menampilkan puisi dibawah ini

 - Kibarkan Gowa -

Ini Gowa
Ini wibawa
Harkat dan martabat telah hidup
Jangan biarkan redup

Kamu ada
Kami ada
Tampillah
Bersatulah

Dekati Gunung Bawakaraeng
Jangan biarkan dia berpaling
Kita tak bisa sendiri
Karena persatuan itu mandiri

Semua butuh sentuhan
Bukan memupuk kemarahan
Perbedaan itu rahmat
Jangan jadikan laknat

Kemarin itu pelajaran
Hari ini keteladanan
Esok dapat diraih
Dengan tasbih dan belas kasih

Jangan fokus ke belakang
Agar tak subur penghalang
Jadikan musuh itu teman
Hingga semua akan ringan

Bersahabatlah dengan nurani
Maka tak hadir tirani
Kejayaan datang pada yang tak gentar
Tegakkan dada dengan nyali yang besar

Gowa terjaga mewangi dalam dzikir
Teruskan pikir lalu mengukir
Hilangkan kekakuanmu
Genggam erat kejayaanmu

Rangkul Utara dan Selatan
Jangan pelihara kelalaian
Tutup semua celah
Agar tak lahir resah

Gowa, Pallangga, 5 Desember 2025
Syahrir AR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *