
Ramadan telah datang, manusia diundang untuk meramaikannya, dan untuk melaksanakannya. Bulan suci ini hanya sekali setahun dihadirkan oleh Allah SWT, dimana umumnya semua pimpinan para malaikat ditugaskan untuk mengawal turunnya bulan suci ini, serta proses berjalannya dari awal hingga selesai. Hampir semua malaikat diperintahkan, diturunkan untuk mengawasi perjalanan bulan yang sangat suci ini.
Semua aspek kehidupan manusia menjadi prioritas dari para malaikat menilai secara khusus, dengan ganjaran kelipatan dari tiap usaha atau pun perbuatan, yang baik dan yang buruk terkait sejauh mana penghormatan tiap manusia dalam mengimplementasikan karakternya dihubungkan dengan penghormatannya baik secara langsung maupun tak langsung terhadap keberadaan bulan Ramadan ini.
Termasuk di dalamnya, pada saat berbuka puasa. Bagaimana para manusia yang tergolong mampu dari segi finansial, berkontribusi membantu sesamanya ummat Islam dalam menghadirkan makanan dan minumannya saat berbuka. Berbuat baik di bulan suci Ramadan ini, ganjarannya berlipat ganda dibanding dengan berbuat baik di bulan lain. Begitu pula sebaliknya, dengan perbuatan buruk yang juga berlipat ganda ganjaran keburukan yang akan didapatkan.
Di bulan ini pula, diatur ulang dan diturunkan segala urusan untuk satu ke depannya. Dan, pada bulan ini pula Allah menurunkan hadiah tertingginya kepada manusia yang tidak pernah diturunkannya pada bulan-bulan yang lain. Hadiah ini jauh lebih baik, daripada kebaikan yang diterima tiap hari tanpa spasi dan berlangsung tiap hari selama 83,3 tahun (seribu bulan). Pernahkah kita manusia mendapatkan kebaikan tiap hari, tanpa jeda dan itu berlangsung selama seribu bulan ? Lailatul Qadar lebih baik daripada itu.
Al-Qadr
Makkiyah · 5
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١
innâ anzalnâhu fî lailatil-qadr
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada Lailatulqadar.
وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ ٢
wa mâ adrâka mâ lailatul-qadr
Tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu?
لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ٣
lailatul-qadri khairum min alfi syahr
Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan.
تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ ٤
tanazzalul-malâ’ikatu war-rûḫu fîhâ bi’idzni rabbihim, ming kulli amr
Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.
سَلٰمٌۛ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِࣖ ٥
salâmun hiya ḫattâ mathla‘il-fajr
Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.
Ada manusia yang berbuka puasa hanya untuk menghilangkan lapar.
Ada manusia yang berbuka untuk mengikuti sunnah.
Dan ada manusia yang berbuka sebagai perjalanan pulang. Pulang dari dunia menuju Allah.

Tulisan ini bukan tentang makanan saat Maghrib.
Ini tentang hati yang kembali menemukan rumahnya.
Masjid, bukan sekadar bangunan, tetapi pelabuhan ruh.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Di rumah-rumah yang Allah izinkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya…”
Para ahli hakikat memahami ayat ini bukan hanya secara hukum, tetapi secara ruhani.
Masjid adalah:
tempat tubuh bersujud
tempat lidah berdzikir
tempat air mata tidak malu jatuh
tempat hati tidak perlu berpura-pura.
Di dunia, manusia memakai banyak wajah, di masjid, manusia hanya membawa dirinya sebagai hamba.
Dalam bahasa tasawuf, puasa bukan menahan makan.
Puasa adalah mengosongkan ruang hati dari selain Allah.
Lapar bukan hukuman.
Lapar adalah proses pembersihan.
Saat perut kosong:
suara dunia mengecil
kesombongan melemah
kesadaran muncul.
Ulama besar seperti Imam Al-Ghazali menulis bahwa kenyang menguatkan syahwat, sedangkan lapar melemahkan dominasi nafsu sehingga cahaya hati mudah muncul. Maka sepanjang siang Ramadan, seorang hamba sedang dibersihkan. Dan, menjelang Maghrib, ia berdiri di ambang pintu rahmat.
Ada detik sunyi di masjid menjelang azan.
Kue sudah di tangan.
Air sudah di depan.
Tetapi hati yang hidup tahu,
yang paling ia tunggu bukan makanan, yang ia tunggu adalah izin Allah untuk mendekat.
Rasulullah SAW bersabda bahwa doa orang berpuasa ketika berbuka tidak tertolak.
Para ulama tasawuf menjelaskan,
karena saat itu hati berada di puncak kehinaan dan harapan sekaligus. Dan, Allah mencintai hati yang hancur di hadapan-Nya.
Di luar masjid:
manusia mengejar dunia
pikiran terpecah
hati lelah
Di dalam masjid:
waktu melambat
suara dzikir mengalir
langkah menjadi ringan
Dalam hadits shahih riwayat Sahih Muslim disebutkan bahwa orang yang berkumpul di rumah Allah diliputi rahmat dan dikelilingi malaikat. Bagi ahli tasawuf, ini bukan sekadar berita.
Ini adalah peta perjalanan ruh.
Karena rahmat adalah makanan hati. Dan, malaikat adalah saksi kembalinya seorang hamba.
Berbuka di masjid, merupakan pertemuan tiga rahasia, yakni
- Rahasia Lapar
lapar menghancurkan kesombongan. - Rahasia Rumah Allah
masjid membuka pintu rahmat. - Rahasia Waktu Berbuka
detik itu membuka pintu doa.
Jika tiga ini bertemu, lahirlah keadaan yang jarang terjadi:
hati sangat dekat kepada Allah.
Orang awam melihat suapan pertama sebagai pelepas lapar.
Orang yang berjalan kepada Allah melihatnya sebagai:
tanda bahwa Allah masih menerima amalnya hari itu.
Ia makan dengan syukur.
Ia minum dengan rasa malu.
Karena ia sadar, bukan ia yang menjaga puasanya, tetapi Allah yang menjaganya.
Ada orang makan banyak di masjid.
Ada orang makan sedikit.
Namun yang paling dekat kepada Allah adalah:
orang yang sebelum makan sempat berkata dalam hatinya:
“Ya Allah… jika Engkau tidak menerima puasaku hari ini, maka semua ini tidak berarti”.
Di titik ini, makanan bukan lagi pusat. Pusatnya adalah ridha Allah.
Tasawuf mengatakan,
setiap manusia sebenarnya sedang jauh dari rumah.
Rumah ruh bukan dunia.
Rumah ruh adalah kedekatan dengan Allah.
Dan setiap langkah ke masjid adalah langkah pulang.
Setiap duduk menunggu azan adalah mengetuk pintu.
Setiap doa sebelum berbuka adalah suara, “Ya Allah… izinkan aku kembali.”
Kadang seseorang datang ke masjid karena ikut teman.
Kadang karena makanan.
Kadang karena kebiasaan.
Bisa jadi seseorang datang karena makanan dan kue, tetapi pulang membawa cahaya.
Bisa jadi datang karena lapar…
tetapi pulang karena cinta.
Kita sering merasa tidak melakukan apa-apa saat duduk di masjid.
Padahal di langit, namamu sedang disebut.
Kita merasa hanya menunggu azan.
Padahal malaikat tidak menunggu, tapi mereka sedang berdoa untukmu.
Bayangkan…
Jika satu malaikat saja mendoakanmu, itu sudah karunia.
Bagaimana jika seluruh malaikat yang hadir di majelis itu ikut memohonkan ampun untukmu?
Rasulullah SAW bersabda:
“Bagi orang yang berpuasa ketika berbuka ada doa yang tidak tertolak.”
Wahai para pencari Allah…
Mengapa doa itu kuat?
Karena lapar telah menghancurkan kesombongan.
Haus telah melunakkan jiwa.
Puasa telah mematahkan nafsu.
Dalam tasawuf dikatakan:
Perut kenyang membuat hati tidur.
Perut lapar membuat hati terbang.
Saat berbuka, hati berada di antara lemah dan berharap. Dan, itulah posisi paling dicintai Allah.
Para ulama sufi berkata:
Ada tiga tempat di mana rahmat turun deras:
hati yang menangis,
majelis dzikir,
dan masjid saat menjelang shalat.
Lihatlah…
Menjelang Maghrib di masjid:
- orang berpuasa
- orang berdzikir
- orang membaca Al-Qur’an
- orang berdoa
Sering berbuka di masjid itu berbeda. Ia tidak hanya kenyang makanan, tapi juga kenyang ketenangan.
Ulama besar seperti Imam Al-Ghazali menjelaskan:
Hati manusia seperti bejana.
Jika diisi dunia terus-menerus, ia menjadi gelap.
Jika diletakkan di masjid, ia mulai jernih.
Masjid bukan hanya tempat shalat.
Masjid adalah rumah sakit bagi hati yang terluka.
Ada orang datang dengan dosa, pulang dengan harapan.
Ada orang datang dengan gelisah, pulang dengan tenang.
Ada orang datang dengan hati keras, pulang dengan air mata.
Diriwayatkan dari para ulama terdahulu:
Ada di antara mereka yang ketika azan Maghrib berkumandang,
tangannya gemetar sebelum makan.
Muridnya bertanya:
“Wahai guru, mengapa engkau menangis? Bukankah ini waktu berbuka?”
Ia menjawab:
“Aku takut puasaku tidak diterima…
dan aku malu kepada Allah jika aku hanya mencari makanan, bukan ampunan.”
Inilah hati para pencinta Allah.
Jika engkau datang ke masjid hanya untuk makanan, engkau pulang dengan kenyang.
Tetapi jika engkau datang untuk Allah, engkau pulang dengan cahaya.
Jika engkau berbuka di rumah, engkau memuaskan tubuhmu.
Jika engkau berbuka di masjid dengan hati hadir, Allah memuaskan ruhmu.
Jangan hanya buka puasamu dengan air.
Bukalah juga dosamu dengan taubat.
Jangan hanya hilangkan laparmu.
Hilangkan juga kerasnya hatimu.
Penutup/Selingan Puitis
Jika engkau ingin kenyang, berbuka di rumah cukup.
Jika engkau ingin tenang, datanglah ke masjid.
Jika engkau ingin makanan, di meja cukup.
Jika engkau ingin Allah, duduklah di sajadah.
Jangan hanya buka puasamu dengan air.
Bukalah juga hatimu dengan taubat.
Jangan hanya tunggu azan Maghrib.
Tunggulah juga rahmat turun ke dadamu.
Karena kadang…
suapan kecil di rumah Allah
lebih berat di sisi-Nya
daripada hidangan besar di tempat lain.
Dan kadang…
satu detik berbuka dengan hati hadir
cukup untuk mengubah perjalanan hidup seorang hamba.
- Ramadan Datang –
Ramadan datang
Manusia diundang
Para malaikat mengantarnya
Kemanunggalan hadiah tertingginya
Bulan ini penuh hikmah
Bukan sekadar petuah
Jauhi berdebat
Agar setan tak mendekat
Bulan suci wajib disongsong
Dunia harus hilang
Pilihlah salah satu
Agar mudah menyatu
Ada rupa manusia
Ada hanya manusia
Ada kekal
Ada yang tidak kekal
Apakah kamu mengerti ?
Atau kamu kurang mengerti ?
Ingin manunggal dengan siapa ?
Atau kamu tidak tahu siapa ?
Kesempurnaan cipta-Nya adalah diri
Mendekatlah pada diri
Diri ada di tiap manusia
Dekaplah manunggal untuk mulia
Puasa obat hati
Agar terhindar dari menyakiti
Jangan kaku pada surga
Jangan fokus pada raga
Ramadan datang
Manusia diundang
Raihlah kemuliaan
Giatkan puasa pada keburukan
Jangan bersandar nominal pahala
Allah menyukai hati yang rela
Berhenti kejar pahala-Nya
Rebutlah rasa suka-Nya
Ramadan berhadiah pertemuan
Bukan lomba pakai kemewahan
Jangan takut derita
Karena itu sumbu pelita
SYAHRIR AR
Gowa, 2 Ramadan 1447 Hijriah



















