Widget Cuaca

CUACA HARI INI

Makassar
🌤
🌡 --°C
💨 -- km/j
💧 --%
Live Score Dunia

LIVE SCORE DUNIA

Premier League
Arsenal 2 - 1 Chelsea
72'
La Liga
Barcelona 1 - 0 Sevilla
55'
Serie A
Inter 0 - 0 Milan
31'
Bundesliga
Bayern 3 - 0 Dortmund
HT
BlogGOWAOPINI

Siapa lagi yang bisa Saya Bantu Hari ini ?

13
×

Siapa lagi yang bisa Saya Bantu Hari ini ?

Sebarkan artikel ini

Kunci hidup ini adalah tunduk patuh kepada-Nya, serta membantu kebaikan kepada sesama makhluk, khususnya kepada sesama manusia.

Mari senantiasa menganjurkan atau pun mengharuskan diri kita sendiri, guna aktif menghadirkan pertanyaan pada diri sendiri, “kebaikan apa lagi yang bisa kulakukan hari ini ? Siapa lagi yang bisa saya bantu hari ini” ?

Bukan, dengan pertanyaan “siapa lagi yang bisa saya cela hari ini” ?
Atau celaan apa lagi bisa kulakukan terhadap orang itu ?

Mari selalu memupuk hati kita masing-masing agar selalu berada dalam skala lingkaran positif, bukan negatif. Karena, yang menentukan baik atau tidaknya seseorang adalah hatinya.

Termasuk di dalamnya, adalah pemimpin yang dihadirkan oleh Allah SWT untuk memimpin kita semua, adalah tergantung dari hati kita semua sebagai yang dipimpin (sebagai rakyat).

Berhentilah mencela pemimpin itu buruk, karena pemimpin yang baik atau pun buruk dapat hadir atau pun dihadirkan oleh Allah SWT, tergantung keadaan hati kita sebagai rakyat yang akan dipimpin. Jika keadaan hati kita baik, maka akan dihadirkan pemimpin yang baik, begitu pun sebaliknya.

Tak ada satu pun dapat terjadi, jika Allah tidak menghendaki. Semua dapat terjadi, jika Allah menghendaki.

Sungguh pada setiap masa pasti ada raja atau pemimpin yang dijadikan oleh Allâh sesuai dengan (keadaan) hati rakyatnya. Jika Allâh Azza wa Jalla menghendaki kebaikan untuk kaum tersebut, niscaya Dia akan mengutus yang melakukan perbaikan. Jika Allâh menghendaki kehancuran atas mereka niscaya Allâh akan mengutus pemimpin yang melakukan keburukan.

Katakanlah, “Wahai Rabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. [Ali ‘Imrân/3:26]

Kandungan ayat ini adalah “Jika kalian adalah orang-orang yang taat dan patuh niscaya Allâh Azza wa Jalla akan menjadikan orang yang penuh kasih sayang sebagai pemimpin kalian. Namun jika kalian pelaku kemaksiatan/juga bagian dari pelaku keburukan, niscaya Allâh akan menjadikan orang jahat sebagai penguasa kalian.”

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan” (QS.Al-‘An`ām: 129).

Pernyataan bahwa “Allah menghadirkan pemimpin buruk bagi kaum yang buruk” adalah konsep yang berakar dari prinsip sebab-akibat dalam ajaran Islam, yang menegaskan bahwa pemimpin sering kali merupakan cerminan dari masyarakat yang dipimpinnya.

Berikut adalah poin-poin penting terkait fenomena ini:

Refleksi Kezaliman Rakyat: Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang zalim menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain, disebabkan apa yang mereka usahakan” (QS. Al-An’am: 129). Ayat ini menunjukkan bahwa pemimpin zalim lahir dari masyarakat yang zalim, lalai, atau tidak menegakkan kebaikan.

Balasan atas Kemaksiatan: Jika suatu kaum melakukan banyak kemaksiatan, Allah dapat menunjuk orang-orang jahat atau zhalim untuk memimpin mereka.

Cerminan Integritas: Pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya. Jika masyarakat ingin memiliki pemimpin yang baik, maka rakyatnya harus terlebih dahulu mengintropeksi diri dan memperbaiki diri.

Hukuman atas Keburukan: Keberadaan pemimpin yang buruk dapat dianggap sebagai bentuk ujian atau hukuman akibat perbuatan zalim penduduk suatu negeri. Meskipun pemimpin tersebut buruk, Islam mengajarkan untuk tidak taat jika mereka memerintahkan kemaksiatan, namun tetap diperintahkan untuk sabar mengikuti perintahnya selama mereka tidak melarang shalat.

Mari tiap hari, menanamkan dalam mindset kita masing-masing, yakni:

Siapa lagi yang bisa saya bantu hari ini ?
Bukan, siapa lagi yang bisa saya cela hari ini ?

Jika kita kurang bisa menciptakan kebersihan, maka marilah kita menghindari hadirnya kotoran.

Jika kita kurang bisa melakukan kebaikan, maka marilah untuk kita menghindari menghadirkan keburukan.

Hidup ini singkat, dan kita semua diperintahkan untuk bermanfaat bukan menjadi bagian dari hadirnya kerugian bagi diri sendiri maupun terhadap di sekitar kita.

Mari menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar secara proporsional dan bertanggung jawab. Berhentilah ikut-ikutan pada sesuatu hal yang tidak ada landasan kuatnya, karena di kemudian hari kita semua akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita lakukan.
(Wallahu A’lam Bis-Shawabi)

Syahrir AR
Gowa, Minggu, 12 April 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *