Widget Cuaca

CUACA HARI INI

Makassar
🌤
🌡 --°C
💨 -- km/j
💧 --%
Live Score Dunia

LIVE SCORE DUNIA

Premier League
Arsenal 2 - 1 Chelsea
72'
La Liga
Barcelona 1 - 0 Sevilla
55'
Serie A
Inter 0 - 0 Milan
31'
Bundesliga
Bayern 3 - 0 Dortmund
HT
Blog

Museum Tenun Bira Diresmikan, Upaya Lestarikan Warisan Budaya dan Dorong Wisata Budaya Bulukumba

0
×

Museum Tenun Bira Diresmikan, Upaya Lestarikan Warisan Budaya dan Dorong Wisata Budaya Bulukumba

Sebarkan artikel ini

Bulukumba,– Pemerintah Kabupaten Bulukumba melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian bekerja sama dengan Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran Institut Teknologi Bandung (DPMK ITB) meresmikan Museum Tenun Bira di Desa Bira, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Minggu (25/10/2026).

Kehadiran Museum Tenun Bira yang berada di Sentra Industri Kecil Menengah (IKM) Tenun Bira menjadi upaya dalam mendokumentasikan, melestarikan, dan memperkenalkan kekayaan tenun tradisional Bira kepada masyarakat luas, sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Peresmian museum tersebut dihadiri Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bulukumba, Alfian Mallihungan, yang mewakili Pemerintah Kabupaten Bulukumba; Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Tenun Bira, Tamrin; Deputi Direktur Bidang Pengabdian Masyarakat DPMK ITB, David Prambudi Sahara, serta Ketua Tim Pengabdian Masyarakat ITB di Bira, Ira Adriati.

Turut hadir Dandim 1411 Bulukumba Letkol Inf. Heraldo Tabasonda, Kapolsek Bontobahari AKP. H. Kasman, Camat Bontobahari Andi Arfan Syukri, Kepala Desa Bira Murlawa, perwakilan Kantor Urusan Agama Kecamatan Bontobahari, para ibu penenun, kepala sekolah, budayawan, dan sastrawan Bulukumba.

Dalam sambutannya Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Alfian Mallihungan, menyampaikan bahwa peresmian Museum Tenun Bira merupakan ikhtiar penting dalam menjaga, merawat, dan mewariskan kekayaan budaya Kabupaten Bulukumba kepada generasi mendatang.

Alfian menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada DPMK ITB atas kolaborasi dan komitmennya dalam menghadirkan museum tersebut.

Menurutnya, museum tidak hanya berfungsi sebagai ruang pamer koleksi budaya, tetapi juga menjadi sarana untuk menjaga identitas daerah, memperkuat kebanggaan masyarakat, serta membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

“ Museum ini diharapkan menjadi ruang edukasi bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, wisatawan, dan masyarakat luas yang ingin mengenal lebih dekat keunikan tenun Bira. Pemerintah Kabupaten Bulukumba terus mendorong agar potensi budaya dan kearifan lokal dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, Museum Tenun Bira memiliki potensi untuk menjadi bagian dalam pengembangan pariwisata budaya di kawasan Bira. Selama ini, Bira dikenal luas karena keindahan alam dan daya tarik wisata baharinya. Kehadiran museum diharapkan dapat memperkaya pengalaman wisatawan melalui pengenalan terhadap tradisi, kreativitas, dan keterampilan masyarakat setempat.

“Kita ingin wisatawan yang datang ke Bira tidak hanya menikmati keindahan pantai dan laut, tetapi juga mengenal kehidupan, kreativitas, serta warisan budaya masyarakatnya. Dengan demikian, pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pengembangan ekonomi masyarakat, dan produk tenun Bira semakin dikenal serta memiliki pasar yang lebih luas,” ungkapnya.

Menurutnya, pengembangan museum juga harus diikuti dengan upaya meningkatkan nilai tambah produk tenun, sehingga para perajin memperoleh kesempatan lebih besar untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan kesejahteraan.

Regenerasi penenun menjadi perhatian

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat ITB di Bira, Ira Adriati, menjelaskan bahwa pendirian Museum Tenun Bira merupakan bagian dari upaya melestarikan tradisi menenun yang menghadapi tantangan regenerasi.

Menurutnya, jumlah perempuan di Bira yang masih menekuni kegiatan menenun semakin berkurang. Bahkan, penenun termuda dalam kelompok penenun Bira yang mereka temui berusia 39 tahun. Kondisi tersebut menjadi perhatian agar keterampilan menenun tidak terputus dan tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Keterampilan menenun perempuan Bira harus terus dipertahankan. Tradisi ini tidak boleh terputus dan harus ada generasi penerus. Salah satu caranya adalah memperkenalkan tenun kepada generasi muda melalui Museum Tenun Bira yang kita resmikan ini,” ujarnya.

Ia juga berharap para kepala sekolah yang hadir dapat mendorong kunjungan edukatif bagi peserta didik ke Museum Tenun Bira. Melalui kunjungan tersebut, generasi muda diharapkan dapat mengenal lebih dekat keluhuran budaya Bira, kemegahan perahu Pinisi, rumah adat, serta tradisi menenun yang menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat.

Ira menjelaskan, kegiatan pengabdian masyarakat ITB di Bira telah berlangsung sejak 2016 melalui penelitian mengenai perahu Pinisi. Pada 2020, tim melaksanakan pelatihan pembuatan cendera mata di Pulau Liukang Loe. Selanjutnya, pada 2022, tim kembali ke Bira untuk mengembangkan situs web wisata Bira.

Pada 2025, ITB melakukan penelitian mengenai persebaran perahu Pinisi di Indonesia, dengan Bira sebagai salah satu pusat penting dalam tradisi pembuatan perahu tersebut. Rangkaian kegiatan itu kemudian berlanjut pada 2026 melalui pendirian Museum Tenun Bira.

“Alhamdulillah, melalui kolaborasi Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bulukumba bersama Tim DPMK ITB, Museum Tenun Bira akhirnya diresmikan pada 25 Oktober 2026. Museum ini dimaksudkan untuk mendokumentasikan, melestarikan, dan mengenalkan tenun Bira kepada masyarakat agar keberlangsungan warisan budaya yang tak ternilai harganya ini dapat terjaga,” jelasnya.

Menambah daya tarik wisata edukasi di Bira

Kepala Desa Bira, Murlawa, menyampaikan apresiasi kepada Tim DPMK ITB yang bekerja sama dengan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bulukumba dalam mewujudkan Museum Tenun Bira.

Ia menilai kehadiran museum tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Desa Bira sekaligus menambah daya tarik wisata di kawasan yang selama ini dikenal dengan potensi wisata baharinya.

“Tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Desa Bira dengan hadirnya Museum Tenun Bira. Semoga ke depan museum ini dapat berfungsi secara maksimal dan menjadi sarana edukasi bagi para pengunjung, terutama pelajar, mahasiswa, dan wisatawan,” harapnya.

Museum Tenun Bira diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan dan pameran koleksi, tetapi juga berkembang sebagai pusat pembelajaran budaya, ruang dokumentasi tradisi menenun, serta sarana promosi produk kerajinan lokal.

Dengan pengelolaan dan kolaborasi yang berkelanjutan, keberadaan museum ini diharapkan mampu memperkuat pelestarian budaya Bira sekaligus membuka peluang bagi pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif masyarakat Bulukumba.

Peresmian Museum Tenun Bira merupakan hasil kerja bersama dosen, tenaga ahli, dan mahasiswa yang tergabung dalam Tim Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB, bersama Pemerintah Kabupaten Bulukumba dan masyarakat setempat. Kolaborasi tersebut menjadi wujud nyata sinergi dalam menjaga warisan budaya daerah agar tetap hidup, dikenal luas, dan diwariskan kepada generasi mendatang.(*)

Museum Tenun Bira Diresmikan, Upaya Lestarikan Warisan Budaya dan Dorong Wisata Budaya Bulukumba

Bulukumba,– Pemerintah Kabupaten Bulukumba melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian bekerja sama dengan Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran Institut Teknologi Bandung (DPMK ITB) meresmikan Museum Tenun Bira di Desa Bira, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Minggu (25/10/2026).

Kehadiran Museum Tenun Bira yang berada di Sentra Industri Kecil Menengah (IKM) Tenun Bira menjadi upaya dalam mendokumentasikan, melestarikan, dan memperkenalkan kekayaan tenun tradisional Bira kepada masyarakat luas, sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Peresmian museum tersebut dihadiri Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bulukumba, Alfian Mallihungan, yang mewakili Pemerintah Kabupaten Bulukumba; Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Tenun Bira, Tamrin; Deputi Direktur Bidang Pengabdian Masyarakat DPMK ITB, David Prambudi Sahara, serta Ketua Tim Pengabdian Masyarakat ITB di Bira, Ira Adriati.

Turut hadir Dandim 1411 Bulukumba Letkol Inf. Heraldo Tabasonda, Kapolsek Bontobahari AKP. H. Kasman, Camat Bontobahari Andi Arfan Syukri, Kepala Desa Bira Murlawa, perwakilan Kantor Urusan Agama Kecamatan Bontobahari, para ibu penenun, kepala sekolah, budayawan, dan sastrawan Bulukumba.

Dalam sambutannya Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Alfian Mallihungan, menyampaikan bahwa peresmian Museum Tenun Bira merupakan ikhtiar penting dalam menjaga, merawat, dan mewariskan kekayaan budaya Kabupaten Bulukumba kepada generasi mendatang.

Alfian menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada DPMK ITB atas kolaborasi dan komitmennya dalam menghadirkan museum tersebut.

Menurutnya, museum tidak hanya berfungsi sebagai ruang pamer koleksi budaya, tetapi juga menjadi sarana untuk menjaga identitas daerah, memperkuat kebanggaan masyarakat, serta membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

“ Museum ini diharapkan menjadi ruang edukasi bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, wisatawan, dan masyarakat luas yang ingin mengenal lebih dekat keunikan tenun Bira. Pemerintah Kabupaten Bulukumba terus mendorong agar potensi budaya dan kearifan lokal dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, Museum Tenun Bira memiliki potensi untuk menjadi bagian dalam pengembangan pariwisata budaya di kawasan Bira. Selama ini, Bira dikenal luas karena keindahan alam dan daya tarik wisata baharinya. Kehadiran museum diharapkan dapat memperkaya pengalaman wisatawan melalui pengenalan terhadap tradisi, kreativitas, dan keterampilan masyarakat setempat.

“Kita ingin wisatawan yang datang ke Bira tidak hanya menikmati keindahan pantai dan laut, tetapi juga mengenal kehidupan, kreativitas, serta warisan budaya masyarakatnya. Dengan demikian, pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pengembangan ekonomi masyarakat, dan produk tenun Bira semakin dikenal serta memiliki pasar yang lebih luas,” ungkapnya.

Menurutnya, pengembangan museum juga harus diikuti dengan upaya meningkatkan nilai tambah produk tenun, sehingga para perajin memperoleh kesempatan lebih besar untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan kesejahteraan.

Regenerasi penenun menjadi perhatian

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat ITB di Bira, Ira Adriati, menjelaskan bahwa pendirian Museum Tenun Bira merupakan bagian dari upaya melestarikan tradisi menenun yang menghadapi tantangan regenerasi.

Menurutnya, jumlah perempuan di Bira yang masih menekuni kegiatan menenun semakin berkurang. Bahkan, penenun termuda dalam kelompok penenun Bira yang mereka temui berusia 39 tahun. Kondisi tersebut menjadi perhatian agar keterampilan menenun tidak terputus dan tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Keterampilan menenun perempuan Bira harus terus dipertahankan. Tradisi ini tidak boleh terputus dan harus ada generasi penerus. Salah satu caranya adalah memperkenalkan tenun kepada generasi muda melalui Museum Tenun Bira yang kita resmikan ini,” ujarnya.

Ia juga berharap para kepala sekolah yang hadir dapat mendorong kunjungan edukatif bagi peserta didik ke Museum Tenun Bira. Melalui kunjungan tersebut, generasi muda diharapkan dapat mengenal lebih dekat keluhuran budaya Bira, kemegahan perahu Pinisi, rumah adat, serta tradisi menenun yang menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat.

Ira menjelaskan, kegiatan pengabdian masyarakat ITB di Bira telah berlangsung sejak 2016 melalui penelitian mengenai perahu Pinisi. Pada 2020, tim melaksanakan pelatihan pembuatan cendera mata di Pulau Liukang Loe. Selanjutnya, pada 2022, tim kembali ke Bira untuk mengembangkan situs web wisata Bira.

Pada 2025, ITB melakukan penelitian mengenai persebaran perahu Pinisi di Indonesia, dengan Bira sebagai salah satu pusat penting dalam tradisi pembuatan perahu tersebut. Rangkaian kegiatan itu kemudian berlanjut pada 2026 melalui pendirian Museum Tenun Bira.

“Alhamdulillah, melalui kolaborasi Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bulukumba bersama Tim DPMK ITB, Museum Tenun Bira akhirnya diresmikan pada 25 Oktober 2026. Museum ini dimaksudkan untuk mendokumentasikan, melestarikan, dan mengenalkan tenun Bira kepada masyarakat agar keberlangsungan warisan budaya yang tak ternilai harganya ini dapat terjaga,” jelasnya.

Menambah daya tarik wisata edukasi di Bira

Kepala Desa Bira, Murlawa, menyampaikan apresiasi kepada Tim DPMK ITB yang bekerja sama dengan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bulukumba dalam mewujudkan Museum Tenun Bira.

Ia menilai kehadiran museum tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Desa Bira sekaligus menambah daya tarik wisata di kawasan yang selama ini dikenal dengan potensi wisata baharinya.

“Tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Desa Bira dengan hadirnya Museum Tenun Bira. Semoga ke depan museum ini dapat berfungsi secara maksimal dan menjadi sarana edukasi bagi para pengunjung, terutama pelajar, mahasiswa, dan wisatawan,” harapnya.

Museum Tenun Bira diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan dan pameran koleksi, tetapi juga berkembang sebagai pusat pembelajaran budaya, ruang dokumentasi tradisi menenun, serta sarana promosi produk kerajinan lokal.

Dengan pengelolaan dan kolaborasi yang berkelanjutan, keberadaan museum ini diharapkan mampu memperkuat pelestarian budaya Bira sekaligus membuka peluang bagi pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif masyarakat Bulukumba.

Peresmian Museum Tenun Bira merupakan hasil kerja bersama dosen, tenaga ahli, dan mahasiswa yang tergabung dalam Tim Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB, bersama Pemerintah Kabupaten Bulukumba dan masyarakat setempat. Kolaborasi tersebut menjadi wujud nyata sinergi dalam menjaga warisan budaya daerah agar tetap hidup, dikenal luas, dan diwariskan kepada generasi mendatang.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *